Diary 21 April
“Ya Allah, nikmat sekali hari ini. . .”. kurang lebih begitu kalimat yang ku jadikan status di my facebook.
Hari ini aku dan teman-teman anissa gak jualan martabak telor, kuliah dari pagi sampai sore. Pulang kuliah, aku berangkat ke rumah umi eni untuk mengkaji islam bersama teman-teman halaqoh ku. Selesai ngaji kami sholat maghrib berjamaah dulu sebelum beranjak dari rumah umi eni. Hari ini, mendadak salah satu teman ngaji mengajaku membeli hadiah untuk teman kami yang 2 hari lagi akan menyempurnakan separuh agamanya. Sebenarnya aku sudah merasa lelah, tapi temanku ini tak punya waktu lagi untuk keluar bersamaku selain malam itu karena dia juga mendapat tugas bejibun dari kampusnya. Ya sudah, bismillah insya allah kuat, akhirnya ku putuskan untuk pergi bersamanya. Kami berdua menyusuri jalan raya utama yang juga dilewati bus, truk, dan kendaraan-kendaraan gede lainnya. Ibu dan teman-teman kos tiba-tiba terlintas dipikiranku “jangan-jangan mereka menungguku sholat jamaah di kos lagi. Astaghfirullah . . .”. segera ku ambil hp dari saku rok ku, sms ke salah satu teman kos terkirim. Alhamdulillah. . . kini aku pun dapat melanjutkan perjalanan dengan tenang. Maklum anak kos, ya kemana-mana jalan kaki. Hehe kurang lebih 6 bulan keadaan ini telah ku nikmati. Dengan semangat ku langkahkan kakiku. Sesampainya di pusat perbelanjaan kecil, kami pun segera memilih. Tanpa waktu yang lama, kami menemukan barang yang rasa-rasanya paling tepat untuk dihadiahkan pada salah satu ukhti kami. Pulangnya pun kami seperti saat sebelum berangkat yaitu naik kaki kami yang Allah berikan dengan kokoh. Dalam perjalanan pulang adzan isya berkumandang, kulangkahkan kakiku lebih cepat berharap aku tak ketinggalan sholat jamaah di kos. Dengan nafas terengah-engah kami berdua berjalan. Sesampainya di pertigaan kami berpisah. Temanku naik angkot dan aku tetap melangkahkan kakiku. Rasanya dengan sekejap aku telah sampai di kos, ku buka pintu dan ku ucap salam. Buru-buru ku lihat ruang utama berharap tak ketinggalan sholat jamaah. Alhamdulillah ternyata masih belum mulai. Ku langkahkan kakiku lebih cepat ketika menaiki tangga ke lantai atas, ku lepas tas ransel, jilbab dan kaos kakiku. Dengan cepat aku mengambil wudhu dan segera menuju ruang utama. Sesampainya disana para jamaah sudah berdiri dan akan iqomat. Melihatku hadir dengan mukenah hijauku, mereka tersenyum, aku pun membalasnya. Alhamdulillah. . . aku masih bisa ikut sholat jamaah isya. Selesai sholat, aku naik ke kamarku. Rasanya lelah sekali, kaki dan badan ini pegel-pegel. Ku panggil teman-temanku untuk membungkus kado dan membuat ucapan sederhana. Sembari melihat teman-teman membuat kado ku lihat layar hp ku. Ternyata ada 1 panggilan dan 1 pesan. “ mba zie kuk gak diangkat sih?”, begitu isi pesan yang tertulis dari sepupuhku Nabila. Segera ku balas smsnya bahwa aku habis sholat dan menyuruhnya menelponku lagi. Baru sebentar terkirim langsung ada panggilan masuk, buru-buru ku angkat.
“Asallamualaikum. . .”
“wa’alaikumsalam. . . kenapa bil?”
“mba zie, dedenya namanya Shidqi Hanif Fakhrudin. Hehe besok minggu mba zie pulang yah??”
. . .
Ya Allah, nikmat sekali hari ini. Jamaah sholat isya yang ku kejar dapat ku ikuti, hari ini deadline tugas udah selesai, ilmu ku dapatkan, hadiah dapat ku beli, udah gitu dapat kabar tentang sikecil itu. Senyuman kini menghiasi wajahku. Setelah itu, nampaknya perut ini keroncongan dan aku segera ke bawah untuk makan malam. Selesai makan aku segera naik ke kamar untuk istirahat, ku tinggalkan teman-teman yang sedang asyik nonton tv. Ku tutup hariku dengan istighfar, hamdalah, 3 surat di juz terakhir dan doa akan tidur.
coment