Mentari kini bersembunyi dibalik gelap. Bulan mengambil alih dengan menampakan kecantikannya. Bintang-bintang pun turut mengambil peran di latar pentas malam ini. “Allahu akbar . . . Allahu akbar. . . “, suara adzan menggema ke penjuru kota kecil ini. Panggilan menuju kemenangan saling bersahut-sahutan antar masjid dan mushola seperti kicauan burung di pagi hari. Namun, ini bukan panggilan antar burung melainkan panggilan bagi hamba-hambaNya yang beriman untuk menuju kemenangan. Warga mulai melangkah menuju rumah-rumah Allah yang berada dekat dengan tempat tinggal mereka. orang-orang yang berada dalam perjalanan pun banyak yang berhenti di tempat-tempat ibadah untuk turut melaksanakan panggilan cintaNya. Mobil dan kendaraan bermotor tampak memadati halaman masjid agung.
Sejak sore memang aku dan livia sahabatku berniat ikut sholat maghrib berjamaah di masjid agung kota kecil yang kini menjadi domisili untukku menuntut ilmu. Kota kecil inilah tempatku sembuh dari penyakit batin, tempat Allah menyembunyikanku dari singa-singa yang selalu menggangguku. Dan di tempat inilah aku merasa nyaman, tenang dan senang tanpa harus merasakan sedih, cemas dan marah melihat kecamuk pertengkaran orang tuaku yang sepertinya lebih kekanak-kanakan dari aku. Teman-teman asrama sangat menyayangiku dan mereka sering membantuku. Aku pun sangat menyayangi mereka seperti saudaraku sendiri. Walau aku bahagia di kota ini, namun kadang aku merasakan rindu pada mamahku. Sebagai anak, aku ingin berbakti pada keduanya walaupun mereka selalu membuatku tak betah di istanaku sendiri. Sebelum aku kuliah di kota ini, aku tak mau punya banyak teman. Aku lebih senang hidup sendiri, hanya Allah yang ku percaya selalu menemaniku dalam keadaan apapun, hanya Dia pula yang mengerti perasaanku. Setelah beberapa bulan di kota ini, aku merasa lebih baik karena aku mulai berani bersosialisasi dengan lingkungan.
Keberadaanku disini juga tak lepas dari ide ammah sarah1. Beliau mengerti ketertekananku. Dulu aku pendiam, tubuhku bukannya semakin berkembang malah semakin kurus seiring bertambahnya umur. Aku ingat, hari itu ammah silaturahmi ke rumah orang tua ku. Ketika aku keluar kamar beliau memanggilku, terlihat sangat merindukanku karena memang sudah bertahun-tahun kami tak bertemu.
“ sini syifa sayang . . .”, katanya.
Pelan-pelan aku mendekat, dari matanya aku tau beliau orang yang sangat penyayang. Beliau memeluku erat, aku pun memeluknya juga.
“ kamu sehat sayang?”, tanya ammah padaku. Aku hanya mengangguk.
“syifa, kamu kok kelihatan sangat kurus. Mukamu juga sangat kucel dan muram. Mana keceriaanmu yang dulu cantik?? Ammah kangen sekali”. Aku hanya tersenyum simpul. Aku duduk disampingnya.
“ mba, syifa sekarang kelas 12 kan?”, tanya ammah pada mamahku.
“iya sarah”, jawab mamah singkat sambil membuat minuman.
“ mau dikuliahin dimana mba?”, lanjut ammah.
“di kota ini aja lah sar. . . gak usah jauh-jauh. Dia anak ku semata wayang, perempuan lagi. Aku tak ingin dia jadi anak yang liar dan gak bener”, terang mamah.
“ di luar kota belum tentu syifa jadi anak yang gak bener mba. Justru dia bisa belajar mandiri, biar gak kaya katak dalam tempurung juga mba. Saya percaya syifa anak yang baik, apalagi dia cerdas. Gak usah di kota gede deh mba. Di kota tempat saya kuliah dulu aja. Biarkan dia belajar mengatur hidupnya sendiri mba. Biarkan dia bersosialisasi dengan lingkungan. Kelak dia kan juga insya allah bakal berkeluarga dan hidup bermasyarakat, jadi biar gak kaget gitu”, bujuk ammah pada mamah.
Aku sangat senang ammah mengusulkan seperti itu. Ingin rasanya ammah disini saja menemaniku. Setidaknya kalau ada ammah disini orang tuaku tak kan bertengkar karena mereka akan malu kalau pertengkarannya di ketahui ammah sarah. Sepertinya bujukan ammah benar-benar dapat mempengaruhi pikiran mamah.
“ iya sar, nanti ku tanyakan sama papahnya syifa”, sahut mamah.
Aku masuk kamar dan meninggalkan mereka. aku menulis diaryku, aku menulis curhatanku tentang kedatangan ammah sarah yang seperti malaikat kiriman Allah untuk membebaskanku dari kesuraman ini. Aku menuliskannya sambil berlinangan air mata berharap Allah melancarkan ide ammah sarah agar di accept2 orang tua ku.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dan suara merdu, “syifa, ammah pengin ngomong sama syifa. Bolehkan??”.
Aku bergegas mengusap air mataku dan segera menyembunyikan buku diary teddy bear milikku. Aku tak menjawab, setelah semua rapi aku buka pintu kamarku dan aku kembali duduk di tepi kasur. Ammah sarah menutup pintu dan berjalan mendekatiku hingga akhirnya duduk disampingku. Beliau memelukku, aku pun menyandarkan kepalaku didadanya. Kehangatan benar-benar ku rasakan, rasanya bendungan air mata ini memaksa keluar dari palpebra3.
Dengan lembut dan penuh kasih sayang beliau berkata, “ sayang, ammah tau kamu sakit. Secara lahir kami memang sehat tapi ammah tau batinmu sakit sayang . . . “.
Air itu benar-benar tak sanggup ku bendung lagi, terlalu penuh hingga palpebra tak mampu lagi menampungnya.
“menangislah . . . ammah siap menemanimu”.
Sejak aku kecil beliau memang sangat menyayangiku. Beliau paling repot kalau aku sakit padahal mamahku juga ada disitu. Tangis yang selama ini ku rahasiakan di depan semua orang, tangis yang selama ini hanya tumpah dalam setiap sujudku padaNya dan ketika aku menulis diary, kini juga tumpah ketika aku berada dalam pelukan ammah sarah. Aku menangis terisak-isak dalam pelukan ammah sarah.
“keluarkanlah kepenatanmu sayang. . . ammah tau telah lama kamu menyimpannya. Ini berakibat kamu stress, akhirnya badanmu ikut kurus seperti ini. Wajahmu juga keliatan lusuh. Maafkan ammah baru datang mengunjungimu. Tapi ammah jauh-jauh hari telah memikirkan waktu yang tepat dan sepertinya saat inilah waktu yang tepat sayang. . . ammah tak mungkin mengambilmu secara paksa dari tangan orang tuamu tanpa alasan yang jelas dan benar”.
Aku pikir setelah ammah menikah dan ikut suaminya, tak pernah memikirkan keadaanku lagi, tak menyayangiku lagi dan tak peduli padaku lagi. Dengan kehadiran dan penjelasannya saat itu, aku sadar bahwa aku telah berprasangka buruk pada ammah yang dari dulu menyayangiku dengan tulus.
“sayang, percayalah Allah selalu bersama kita. Dia tak pernah tidur. Dia tau semua yang kamu alami. Dia pula yang membuat cinta ammah padamu tak pernah pudar”.
Kali ini aku mau membuka mulut, “ iya ammah . . . sejak ammah jauh, hanya allah yang selalu menemani syifa, hanya allah tempat curhat syifa. Tak ada lagi tempat syifa berlari kecuali Dia. Syifa juga percaya Dia jugalah yang kelak akan mengembalikan kebahagiaan syifa”.
“bagus sayang . . . iman inilah yang membuatmu sabar dan kuat. Bersyukurlah. . kamu salah satu yang diberi nikmat iman itu. Allah sangat menyayangimu sayang. Tersenyumlah cantik. . . ammah kangen liat senyuman kamu. Kamu yang ceria, kamu yang cerewet. Kamu yang punya rasa ingin tau yang tinggi jika melihat hal-hal baru. Ammah ingin kamu selalu tersenyum dalam keadaan apapun. Senyum itu pilihan sayang, karena dalam keadaan apapun kita selalu bisa tersenyum kalo kita mau melakukannya. Tersenyumlah karena iman dan islam yang masih bersemayam di dadamu”.
Aku pun tersenyum, rasanya susah tapi kali ini biar aku paksa, biar aku terbiasa tersenyum, biar otot-otot wajahku bergerak, biar aku keliahatan cerah.
Aku melepaskan pelukan ammah.
“ ammah, makasih yah ammah. . . syifa gak tau kalau gak ada ammah. Mungkin aja wajah syifa bisa jadi keliatan lebih tua dari ammah”.
“kamu cantik sayang. . . makanya jangan kebanyakan cembetut4 dong ndoro ayu. . . hehe”, ammah menggodaku.
“ ah, ammah nih. . manggilnya ndoro ayu lagi. Huh . . “, geretuku.
“ eh, kok cembetut lagi?? Emangnya ammah harus manggil apa? Ndoro jelek?. Hahaha”, ammah masih menggodaku. Aku tersenyum.
“ nah gitu dong.. kan cantik kalo senyum. . .”, ammah pun tersenyum padaku.
“ammah, kira-kira mamah sama papah bakal nerima saran ammah apa gak yah? Syifa pengin pergi dari rumah mah . . syifa stress liat mereka berantem terus. Syifa udah kaya orang asing dirumah orang tua syifa sendiri. Mereka tiap hari berantem dan tak pernah memperhatikan syifa. Siapa tau kalau mamah sama papah ditinggal berdua bisa kaya orang pacaran. Jadinya akur gitu mah. . .”, aku mulai berani berbicara lagi.
“gak njamin juga kamu pergi mereka bakal bisa akur. Kamu sebagai anak jangan pernah lelah mendoakan mereka syifa. . . kamu jangan sampai membenci mereka yah? bagaimanapun mereka, mereka orang tua kamu yang wajib kamu hormati dan kamu sayangi. Agama kita mengajarkan seperti itu dalam al qur’an dan juga hadist. Allah menyuruh kita menjadi birul walidain, rosul juga mengajarkan seperti itu”, ammah mengingatkanku.
“iya ammah. . . syifa juga sayang sama mereka kok. Cuma syifa sedih aja karena melihat mereka bertengkar terus dan tak pernah memperhatikan syifa. Malah syifa sering kena marah sama mamah dan papah. Kalau syifa boleh milih, syifa milih orang tua syifa ammah sarah aja”.
“semua udah ketentuanNya sayang. . . gak bisa milih-milih orang tua. berdoa aja sayang . . . mudah-mudahan mereka mengijinkanmu belajar mandiri dan mereka bisa berpikir dewasa untuk saling mengalah agar kelak mereka bisa akur dan tak bertengkar terus. Kalau kelak kamu jauh, pasti mereka akan merindukanmu sayang. . . ”.
Seperti itulah ammah sarah, beliau sangat menyayangiku dan paling tau keadaan rumah tangga orang tuaku. Suatu hari, akhirnya orang tuaku mengijinkanku kuliah di kota ini. Dan disini aku menemukan keluarga baru yaitu teman-teman di asrama. Nuansa religius yang kental disini membuatku merasa semakin dekat denganNya yang sangat menyayangiku lebih dari siapapun. Dia yang menjadi alasanku untuk tetap bisa tersenyum.
Selesai sholat berjamaah, Aku dan livia duduk di depan masjid. Kami melihat bintang dan bulan dilangit seolah-olah mereka tersenyum pada dua gadis berjilbab yang duduk dan memandang mereka yaitu aku dan livia.
“subhanallah. . . bagus banget pemandangan malam ini yah liv. Cantik banget. . . “, aku tersenyum senang.
“iya fa. . . cantik kaya livia. Hehe”.
“mulai narsis nih. Wuuu… eh liv, aku kangen sama mamah dan papah”.
“sama fa, aku juga sangat merindukan orang tua ku. Mereka juga pasti merindukan kita. Jangan sampai kita menyalahgunakan kepercayaan mereka nguliahin kita disini yah fa. . disini kita harus berjuang”.
“iya liv, tentunya dengan niat lurus yaitu menuntut ilmu karenaNya. aku juga ingin bahagiain mereka. aku ingin menjadi orang yang bermanfaat. Aku ingin menjadi wanita shalihah. Aku ingin berbakti pada kedua orang tua ku”.
“I’m agree with you princess Rania As Syifa and I Wish too. . . hehe”.
“walah. . sok british kamu. Ayo kita cari makan terus pulang. Jangan pulang kemalaman, barangkali ketemu singa-singa lapar seperti di daerah rumahku”.
“singa mah adanya dihutan nenk…”
“iya deh terserah kamu!!”
“hahaha. . .”
Beberapa saat kemudian kami beranjak dari masjid agung. Kami berjalan menyusuri alun-alun untuk mencari makan malam dan kue untuk teman-teman asrama. Setelah mendapatkan apa yang kami cari, kami langsung menuju asrama.
coment