Sebelum sembahyang
Sebuah gang yang sepi deket masjid di sebuah desa. Terdengar kentongan dan bedug di pukul Orang, lalu disusul suara adzan. Di gang itu berkumpul empat orang pencopet yang sedang mencari mangsa untuk dirampok.
Tiba-tiba datanglah seorang wanita berkerudung sambil membawa mukenah dan sajadah untuk sholat.
Copet III : Ssst! Lihat tuh! Ada mangsa datang!
Copet II : Oh, iya! Waduh, Cantiknya!
Copet IV : Stop, Nona! Mau kemana?
Wanita muslim itu berhenti dan menatap komplotan itu satu persatu.
Copet II : Wah, tatapannya maut, sih. Keder juga aku.
Copet III : Kalau aku malah jatuh cinta! Oooh… Bidadariku, inikah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?
Copet I : Alaaa… pandangan pertama gombal!
Wanita itu kembali akan meneruskan perjalanan.
Copet IV : Lho, lho, nanti dulu, nona ayu. Pertanyaanku belum dijawab, bukan ?Mau kemana bidadariku?
Wanita Muslim : Minggir!! ( sambil pasang kuda-kuda )
Copet IV : Eitz.. melotot. Mau ngelawan yah??
Copet VI mendekat akan mencolek. Tiba-tiba, tangannya ditangkap dan diplintir, lalu Ditendang.
Copet IV : Waduh, waduh! Tiada ku sangka kalau kau pandai pencak silat nona manis..
Copet I : Eit.. eit mau pergi kemana nih? Ayo, kawan, kita preteli perhiasannya! Kita perkosa orangnya!
Tiba-tiba datang seorang Kiai.
Kiai : Hahaha.. sungguh pemandangan yang lucu. Empat ekor srigala kelaparan mencoba memangsa kelinci ta berdaya. Sungguh tak seimbang.
Wanita muslim : Guru!
Kiai : Minggirlah, zubaidah! Mereka bukan tandinganmu dan mereka memang patut diberi pelajaran.
Copet I : Siapa kamu? Minggir! Kalau tidak parangku, akan merobek tubuhmu!
Kiai : Oke, aku tidak mau minggir. Kalau memang penasaran, majulah!
Copet I : Bangsat!
Terjadilah perkelahian antara empat perampok dan Kiai. Walaupun dikeroyok, namun Kiai tetap unggul.
Copet III : Aduh, waduh,,, Aku kapok, pak Kiai, kapok!
Copet IV : Waduh,, Kepalaku benjut. Ampun!
Copet II : Seluruh tubuhku ngilu semuanya. Jangan, Pak Kiai, saya jangan dipukuli lagi!
Copet I : Saya juga kapok pak Kiai.
Kiai : Benarkah kalian sudah kapok?
Copet I : Iya, Pak Kiai. Sungguh!
Copet II : Yakin aqinul yakin pak kiai.
Kiai : Alaaa! Pakai yakin ainul yakin segala!
Copet II : Lho, diam-diam, saya dulu pernah jadi santri di pondok, Pak Kiai.
Kiai : Lha, Kenapa sekarang kok mbrandal?
Copet II : Itulah, Pak Kiai, saya lari dari pondok gara-gara mencuri petromaks.
Kiai : Lha, kamu tho yang ngambil lampu petromaks gak bilang-bilang?
Copet I : Kalau saya, dulu juga sering ke masjid, Pak Kiai. Terutama kalau bulan puasa, saya ikut trawehan. Tetapi, terus terang, saya sering nyolong sandal baru di masjid.
Kiai : Dasar kamu!
Copet III : Kalau almarhum kakek buyut saya, dulu seorang muadzin, Pak Kiai. Tapi sayang, saya dilahirkan dealam rumah tangga yang kacau balau. Bapak saya tukang kepruk. Ibu saya seorang pelacur jalanan.
Kiai : Astaghfirullah! Manusia memang tidak akan mengetahui apa yang akan menjadi rencana Allah karena dialah yang mengemudikan kita semua. Tetapi, jika kalian terjerumus ke jurang yang penuh dengan segala keburukan, jangan kalian salahkan Allah sebab kalian telah menuruti bujukan setan terkutuk!. Pada mulanya, kalian ini adalah fitrah. Namun, orang tuamu telah salah dalam menjuruskan kalian disamping kamu sendiri yang salah dalam memilih teman bergaul. Saya tidak akan berkata panjangt lebar. Hanya saya akan menawarkan pada kalian, jika kalian ingin meluruskan jalan kalian, saya sanggup memberi petunjuk. Jika tidak, toh urusan kalian juga. Aku akan segera meneruskan perjalanan.
Copet II : Kawan-kawan, alankah baiknya tawaran Pak Kiai. Kita telah ditaklukannya dan jadi berandal pun lama-lama bosan juga. Pikiran selalu tidak tenang dan khawatir. Oh, aku jadi ingat sebuah nasehat, ” Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang jika orang itu sendiri tidak mau mengubahnya” . Betul begitu bukan, Pak Kiai?
Kiai : ya, demikianlah. Sekarang bagaimana?
Copet III : Saya nurut saja deh sama Pak Kiai.
Terdengar suara iqomah di mesjid.
Kiai : Zubaida, marilah! Dengarlah qomat di masjid, sembahyang sudah mulai tak apalah kita terlambat sedikit.
Wanita Muslim : Marilah, guru.
Kiai : Hai, kalian bagaimana? Mau pulang atau ikut kami?
Copet I : Bagaimana?
Copet III : Lha, bagaimana?
Copet II : Yuk, ikut saja deh. Saya ikut anda Pak Kiai.
Copet I : Saya juga, Pak Kiai.
Copet III : Saya juga, Pak. Tapi saya diajari wudhu dulu.
Copet IV : Saya juga, Pak.
Kiai : Baik! Marilah..
Akhirnya keempat pencopet yang berusaha merampok Zubaidah, bertaubat dan ikut Ke masjid untuk sembahyang.