Ini lebaran ketiga aku berjilbab. Apa sih jilbab ?? jilbab itu pakaian takwa. Pakaian takwa itu kaya pa? pakaian takwa itu pakaian yang menutupi seluruh tubuh kecuali yang biasa nampak tapi bukan yang Cuma nempel dikulit lho ya. . .
Yuk. . . aku ceritain awal ketika hidayah itu datang. J
Aku memutuskan berjilbab permanen ketika masuk di tahun ajaran baru kelas 12 SMA. Permanen ?? yah permanen, maksudnya melakukannya secara terus-menerus dan mencoba istiqomah. Semoga sampai akhir hayat. . . amien. J Sebelumnya, memang kadang-kadang aku berjilbab tapi ya jika sedang ingin mengenakannya terutama ke acara pengajian atau pada saat suasana lebaran saja.
Aku mulai ingin berjilbab ketika tau bahwa menutup aurat itu kewajiban bagi setiap muslimah dan jika tidak di lakukan, kita akan berdosa. Itu pun melalui sebuah proses untuk memberanikan diri tampil sebagai seorang muslimah berjilbab. Sebenarnya niat ingin berjilbab muncul di akhir kelas 10 SMA, inginnya masuk di kelas 11 aku sudah berjilbab namun aku masih malu. Sejak awal masuk SMA, orang-orang di rumah memang sudah memaksaku memakai pakaian takwa itu. Mulai dari mbah kakungku yang selalu menjejali ku ilmu agama sejak kecil. Tapi aku cuek dan tak pernah memikirkannya. Sejak lancar membaca Qur’an, Everyday aku emang selalu tilawah minimal setelah maghrib tapi jarang sekali membaca artinya. Itu berlangsung bertahun-tahun lamanya hingga awal SMA. SMA aku ikut rohis, mulai tilawah sekalian dengan artinya. Sepupuhku sekaligus sahabatku sejak kecil, yang saat itu nyantri, tiap pulang kadang membawakanku buku-buku tentang islam, tentang jilbab. Teman-teman rohis juga sering meminjami ku buku salah satunya tentang jilbab. Aku juga melihat arti Q.S An-nur : 31. Akhirnya sering belajar dan mulai memahami. Ketika awal aku memahami itu, aku mulai resah, takut dan tidak tenang. Kadang aku merenung dan memikirkan bahwa kalau aku tidak berjilbab dan dilihat orang yang bukan muhrimku berarti aku berdosa meskipun aku rajin menjalankan sholat 5 waktu, puasa sunah, qiyamul lail dan aktifitas ibadah lainnya. Sedangkan aku juga setiap hari ke sekolah, keluar rumah dan bertemu dengan orang-orang yang bukan muhrimku, berarti aku sudah pasti berdosa setiap hari dong. Padahal ketika kita sudah berjilbab pun belum tentu kita tak melakukan perbuatan yang membuat kita berdosa. Astaghfirullahaladzim. . .
Menjadi shalihah itu impian bagi setiap muslimah. Dengan akhlak yang baik, melaksanakan sholat 5 waktu, tilawah, bersedakah, qiyamul lail, birul walidain, puasa, haji dan amalan-amalan lainnya yang kita lakukan, apakah bisa di sebut shalihah jika perintah berjilbab tak kita laksanakan??
Alhamdulillah, liburan akhir semester genap kelas 11 ku mantapkan hatiku untuk berjilbab. Mau nunggu sampai kapan kalau sekarang gak berani-berani? Sedangkan tiap hari kontrak gratis kita di dunia terus berkurang. Hari pertama semester ganjil di kelas 12, dengan bismillah kukenakan pakaian Syar’i ku menuju sekolah. Perasaan malu masih ada namun aku kuatkan hatiku “kenapa harus malu? Jika perubahan yang di lakukan adalah perubahan positif? Perubahan yang akan membuat Allah senang”. Malu perlahan-lahan dapat ku lawan. Ternyata, Banyak sekali tanggapan dari orang-orang terdekatku baik di rumah maupun di lingkungan sekolah. Tidak semua menanggapi perubahanku dengan tanggapan positif. Ah. . . apakah aku berjilbab karena ingin di tanggapi ?? tentu saja bukan! Memang, baik tanggapan positif maupun negatif tidak bisa dipungkiri pasti akan mempengaruhi psikisku walaupun mungkin sedikit, tapi bukankah aku lebih takut sama Allah daripada sama manusia ? bukankah ingin berjilbab juga karena perintah Allah ? jika hidayah itu telah datang, maka rasanya mantabbbb. Subhanallah. . . J
Sekarang cerita celana berubah jadi rok dan gamis. Awal berjilbab, di luar sekolah, aku masih sering mengenakan celana. Karena aku pikir itu lebih simpel, apalagi sejak kecil aku tomboy dan jarang sekali memakai rok. Aku kan juga everyday selalu memakai motor jika pergi ke mana-mana jadi menggunakan celana menurutku lebih mudah. Namun, Aku masih selalu mempelajari agama ku tercinta “islam”, the way of life for all muslim in the world. Ternyata seorang perempuan itu tak boleh menyerupai laki-laki dan sebaliknya laki-laki juga tak boleh menyerupai perempuan. Nah sedangkan celana itu kan hakikatnya pakaian laki-laki. Terus jika kita menggunakan celana, bentuk bagian tubuh kita yang bawah mulai dari femur (paha) hingga pedis (kaki) juga akan terlihat lekuk-lekuknya apalagi celana-celana model sekarang tuh yang ngepres-ngepres di kulit. Menurut aku, itu pantesnya buat daleman. Kalau di pakenya gak buat daleman, itu kaya telanjang. Apa gak malu kalo dilihat sama orang-orang? Hey. . . malu itu juga merupakan salah satu cabang iman loh. Seorang yang beriman seharusnya punya sifat malu. Nah, menurut al Qur’anul karim yang merupakan firman Allah, Setiap bagian tubuh perempuan itu aurat kecuali yang biasa nampak yaitu wajah dan telapak tangan jadi sudah seharusnya di tutupin biar gak kelihatan warna dan lekuk-lekuk bentuknya yang indah. Yang boleh melihat ya hanya orang-orang yang berhak aja (mahrom dan kekasih halal alias misua. hehe). So, jangan di obral kemana-mana dong. Sesungguhnya islam sangat memuliakan perempuan tapi perempuan di akhir zaman ini tidak mau di muliakan, kecuali yang mau dan berusaha menjaga diri sesuai dengan perintah agama kita yang indah ini. Dengan pengetahuan tentang inilah, aku mulai memakai rok dan gamis. Ternyata pakai rok nyaman kok, naik motor juga gak susah, asalkan rok kita di buat lebih longgar terus pakai daleman celana atau kaos kaki yang panjang sampai patela alias lutut, jadi kalau rok kita keangkat sedikit, kulit betis kita gak bakal keliatan. Begituu. . .
Sekarang di bangku kuliah pun, aku menemukan hambatan dalam masalah berpakaian ini. Di kampus, mahasiswi seragamnya menggunakan celana. Tahukah kawan, aku juga mau gak mau menggunakan celana walaupun itu sangat bertentangan dengan hati nurani. Setelah lumayan lama tak menggunakan celana, ketika awal kegiatan di kampus baru aku harus menggunakan celana, aku merasa sangat risih bahkan tak percaya diri. Aku gak sendirian, ada temanku yang lain, yang juga merasakan hal yang sama. saudariku itu, jika berangkat dari rumah ia menggunakan rok, rok akan di lepas jika sampai di kampus dan jika pulang akan kembali mengenakan roknya. Ini perjuangan kawan. . . tapi rencananya dalam waktu dekat ini, aku juga ingin menjahit rok untuk seragamku meskipun aku tau ini melanggar aturan kampus.
Terus masalah kerudung syar’i. Menurut Q.S An-Nur : 31, kerudung itu haruslah menutup dada dan janganlah menampakan perhiasannya. Kalau melihat femenomena mode jaman sekarang, banyak sekali yang tidak sesuai dengan ayat ini. Dengan kalimat itu, aku kira udah jelas tanpa harus memberikan contoh-contohnya yang kaya apa. Ya ukhti, saudariku muslimah. . . pengetahuan agama itu sangatlah penting jika kita ingin hayyatan thoyibah alias ingin hidup yang benar-benar baik. Termasuk dalam hal berpakaian. Kita harus pandai-pandai memfilter budaya yang masuk dalam kehidupan kita. Ambilah yang baik dan sesuai aturan allah, jika tidak sesuai maka jangan di ikuti. Untuk tau sesuai atau gak nya, kita harus tau ilmunya. Untuk tau ilmunya, kita harus rajin belajar.
Pas nulis ini suasananya lagi Lebaran ni, saudara-saudara ku berkumpul. yah walaupun tak seramai lebaran tahun lalu tapi bertemu dengan hari kemenangan juga anugrah yang patut di syukuri. sepupuhku main dan ngobrol-ngobrol denganku. “dulu cowok banget, gak mau pake rok. Pakenya celana pendek dan kaos. Sekarang pake rok terus. Gak kangen jadi cowok? Hahaha”, ledek sepupuhku. “ternyata lebih enak jadi perempuan jadi gak mau deh jadi cowok”, jawabku singkat sambil tersenyum. J
Tetaplah menjadi muslimah shalihah walaupun zaman akan selalu Berubah!!! La tahzan, innallaha ma’ana.
coment